jump to navigation

PALESTINE, tak sekedar masalah wilayah Januari 19, 2009

Posted by buletinalkahfi in artikel buletin.
trackback

peta-palestineMaha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [Al-Israa': 1]

Ayat diatas menunjukan bahwa nama al aqsha artinya al-ab’ad (yang terjauh) diberikan langsung oleh Alloh Subhanahu wa Ta’alaa. Imam Bukhari dalam suatu riwayat mengatakan, Abu Dzar Radhiallohu’anhu (semoga Alloh meridhoinya) bertanya kepada Rosululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rosululloh, masjid mana yang diletakan pertama kali dibumi?”

<pstyle=”text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:150%;” align=”justify”>Rosululloh menjawab “Masjid al Haram ( Ka’bah )”. Abu Dzar bertanya kembali “Kemudian mana lagi?”. Jawab Rosululloh “Masjid Al Aqsha”. Abu Dzar bertanya lagi, “Berapa jarak diantara keduanya?”. Kata Rosululloh, “40 tahun, dan dimana pun ketika tiba waktu shalat maka shalatlah, maka ia adalah masjid.”( Lihat Fath Al Bari 408 / 6 ).

Jadi, jika ada riwayat yang mengatakan bahwa Masjid Al Aqsha adalah masjid yang dibangun Nabi Sulaiman ‘alaihi sallam – seperti pengakuan orang-orang Yahudi La’natullah ‘alaihim Ajma’in (semoga laknat Alloh senantiasa menimpa mereka semua sampai hari kiamat) – maka itu sulit dibenarkan. Masjid Al Haram dibangun oleh Nabi Ibrahim ‘alaihi sallam yang hidup sekitar 1000 tahun sebelum Nabi Sulaiman. Sementara hadits diatas cuma menunjuk angka 40 tahun.

Menurut Ibnu Al Jauzi dan Al Qurthubi sebenarnya Ibrahim maupun Sulaiman hanyalah merehabilitasi masjid tersebut bukan membangunya. Realitas sejarah ini secara otomatis menolak klaim Yahudi yang menyebut reruntuhan Haikal sulaiman (tempat ibadah kaum yahudi) berada dibawah masjid ini. Bagaimana mungkin seseorang yang hanya melakukan rehabilitasi bisa membangun haikal dibawahnya? Rehabilitasi juga dilakukan oleh Umar bin Khattab Radiallohu’anhu pada 12 Rabiul Awal15 H (Mei 636 M). Saat itu Umar melihat kondisi Masjid Al Aqsha hancur. Kemudian pada tahun 97 H Al Walid Ibnu Abd Malik juga melakukan perbaikan.

Menurut Dr Adnan Ali Ridha An Nahwi dalam bukunya Filisthin Baina Al Minhaj Al Rabbani wa Al Waqi’m, pertalian antara Masjid Al Aqsha dengan Islam tak saja dimulai ketika agama Islam masuk ke Palestina, tapi jauh sebelum itu. Saat risalah tauhid dan perintah Alloh membumi disana.

Nabi Ibrahim berhijrah ke Palestina bukan kerena fanatisme, kejahiliahan atau etnisitas. Tetapi karena membawa risalah Islam. Alloh berfirman, “Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri ( kepada Alloh ) dan sekali-kali dia tidaklah termasuk golongan orang-orang yang musyrik. [Ali ‘Imran : 67]

Demikian juga Nabi Luth dan Musa ‘alaihi sallam yang berhijrah ke Palestina karena iman dan ketauhidan mereka kepada Alloh Azza wa Jalla [Al Anbiyaa : 71]

Ketika kaum Yahudi kembali kafir kepada Alloh, Nabi Isa ‘alaihi sallam diutus untuk mengembalikan mereka kejalan iman dan Islam. Demikianjuga disaat kerusakan merebak lagi dimuka bumi, Alloh mengutus seorang nabi penutup, yaitu Nabi Muhammad Shallallohu ‘alaihi wa sallam.

Pertautan antara Islam dengan bumi Palestina semakin tegas karena Masjid Al Aqsha adalah kiblat pertama kaum muslimin.

Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: ‘Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka Telah berkiblat kepadanya?’ Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus’.” [al-Baqarah: 142]

Baitul Maqdis tak lain adalah Masjidil Aqsha, yang di waktu nabi Muhammad Shallallohu ‘alaihi wa sallam berada di Mekah di tengah-tengah kaum musyirikin beliau berkiblat ke Baitul Maqdis (Masjid Al-Aqsha). Tetapi setelah 16 atau 17 bulan nabi berada di Madinah ditengah-tengah orang Yahudi dan Nasrani beliau diperintah oleh Alloh untuk mengambil ka’bah menjadi kiblat, terutama sekali untuk memberi pengertian bahwa dalam ibadat shalat itu bukanlah arah Baitul Maqdis dan ka’bah itu menjadi tujuan, tetapi menghadapkan diri kepada Tuhan. untuk persatuan umat islam, Alloh menjadikan ka’bah sebagai kiblat.

Makin nampak jelas setelah peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Shallallohu ‘alaihi wa sallam, yang diterangkan Alloh : “… yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam, dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha…” [Ali Israa’ : 1]

Bukti lain ada dalam, kalimat “Masjid Al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya…” maksudnya Al Masjidil Aqsha dan daerah-daerah sekitarnya dapat berkat dari Alloh dengan diturunkan nabi-nabi di negeri itu dan kesuburan tanahnya [lihat Al-Qur’an terjemahan]

Di redaksi hadits, telah bersabda Rosululloh: “Tidak dilakukan perjalanan kecuali tiga masjid (dilarang melakukan perjalanan /shafar dalam rangka ibadah kepada Alloh kecuali di tiga masjid); yaitu masjid aku ini masjid Nabawi (Madinah), Makkah Al Mukaramah (Ka’bah) , dan Masjid Al Aqsha.” (Riwayat Imam Muslim). Bahkan dalam hadits lain disebutkan nilai shalat di masjid Al Aqsha pahalanya 500 kali dibanding shalat di masjid biasa.

Keutamaan dan keberkahan bumi Palestina banyak diriwayatkan dalam hadits lain. Palestina juga disebut sebagai mahsyar dan mansyar (tempat berkumpulnya manusia sebelum hari kiamat). Jika terjadi fitnah dan petaka, Rosululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,: “….Ketauhilah jika terjadi fitnah sesungguhnya iman itu di Syam.”. Sedangkan Palestina adalah bagian dari Syam.

Hadits yang diriwayatkan Abu Darda menyatakan bahwa Palestina adalah negeri jihad. Rosululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “….Dan barangsiapa menduduki salah satu pesisir dari pesisir-pesisirnya, maka ia dalam keadaan berjihad.” (Riwayat Abi Umamah, hadits marfu’)

Dari semua penjelasan dan dalil-dalil di atas, jelas sekali bahwa persoalan Palestina (termasuk di dalamnya Masjid Al Aqsha) adalah persoalan yang menyangkut eksistensi, konflik antara yang haq dan yang bathil, serta bagian dari persoalan akidah, iman dan Islam.bukan sekedar persoalan perebutan wilayah. Maka wajib bagi semua kaum muslimin, membela Palestina, Masjid Al Aqsha serta keselamatan kaum muslimin di sana. Baik jihad dengan jiwa dan harta benda, serta doa. Selama Palestina belum merdeka dari Zionis Israel La’natullah. Persoalan Palestina adalah persoalan semua kaum muslimin di seluruh belahan dunia. Alloh menjanjikan bumi Palestina sebagai bumi jihad sampai hari kiamat.

david



PALESTINA,

Kami Tak Hanya Diam

[muslim.or.id]

Perhatian dunia dalam beberapa minggu ini tertuju pada Jalur Gaza. Invasi tentara Yahudi ke Gaza menelan banyak korban terutama wanita dan anak-anak. Korban luka-luka semakin memperbanyak deretan korban meninggal dunia. Dunia pun merespon dengan berbagai macam aksi.

Di antara aksi sebagai bentuk kepedulian atas musibah yang menimpa kaum muslimin di Palestina itu adalah aksi berupa bantuan kemanusiaan. Program “Donasi Untuk Palestina” dari Arab Saudi di bawah pimpinan Raja Abdullah bin Abdul Aziz –ayyadahullah-, walaupun sudah sejak lama dicanangkan mulai digencarkan. Rumah-rumah sakit ternama di pusat kerajaan Saudi difokuskan untuk menangani korban luka-luka akibat serangan kaum Yahudi tersebut. Bantuan berupa makanan, pakaian dan obat-obatan juga terus mengalir sampai detik ini. Kalangan ulama pun tidak tinggal diam, baik perseorangan maupun lembaga. Syeikh Abdul Aziz Alu Syeikh dan Syeikh Abdurrahman As Sudais mengecam dengan keras aksi serangan tersebut dalam khutbah jum’at mereka. Mereka dan umumnya, para khatib di Saudi tidak lupa mendo’akan kaum muslimin Palestina secara khusus. Lajnah Daa’imah juga mengeluarkan pernyataan dalam menyikapi tragedi di Jalur Gaza tersebut. Dan masih banyak lagi bentuk bantuan baik materi maupun moril/spirit.

Namun, bagaimanakah dengan teriakan-teriakan “Jihad ke Palestina!!” yang banyak di ucapkan umat Muslim dalam orasi-orasinya?

Allah telah berfirman: “…dan janganlah kalian menjatuhkan diri-diri kalian dalam kebinasaan…” [al Baqarah: 195]

Tahukah Kita bahwa jihad bukan hanya perkara mengucapkan dan meneriakkan, “Isy kariiman, aw Mut syahiidan…” (Hiduplah dalam kemuliaan atau matilah sebagai syahid)? Namun jihad membutuhkan seorang imam dan tandhim (taktik dan siasat perang). Dan yang lebih penting lagi, apakah kita yakin bahwa masing-masing front/partai/hizb itu berperang untuk meninggikan kalimat Laa ilaaha illallaah? Qul Haatu burhaanakum in kuntum shaadiqiin.

Dan jika kita bersiap untuk berjihad, maka kita akan berjihad di bawah bendera siapa di Palestina? Di bawah bendera Hamas atau berspandukkan Al Fatah? Atau barangkali di bawah komando Jihad Islami Palestina (JIP)? Atau kita memimpin laskar jihad yang kita buat sendiri?

Memang, tidak salah perkataan:, “Kaum muslimin harus berada dalam satu barisan dalam menghadapi dan menyikapi Yahudi.”. karena Alloh juga telah menyatakan: “Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (ash Shaff: 4)

Namun, bagaimana bisa mempersatukan barisan kaum muslimin untuk berjihad, sedangkan di tengah-tengah mereka masih banyak kaum muslimin yang menyembah kuburan, menghambakan diri kepada dukun, paranormal, dan tukang pelet? Bagaimana pula halnya kalau kaum muslimin yang terjun di medan jihad, banyak di antara mereka yang memakai jimat, atau membaca mantera-mantera yang telah dirajah oleh mbah-mbah dukun supaya kebal senjata api dan agar tidak terdeteksi oleh radar? Bagaimana akan mempersatukan kaum muslimin dalam rangka jihad, kalau segolongan di antara mereka tidak akan berangkat perang sebelum melakukan thawaf (mengelilingi) kuburan seseorang yang dianggap wali? Atau bagaimana pula jika segolongan yang lain tidak akan berperang kalau yang menjadi imam bukan dari golongannya? Atau bagaimana kaum muslimin akan bersatu padu dalam medan jihad, kalau mereka ketika dikumandangkan seruan azdan “Mari mencapai kemenangan…(2x)”, bermalas-malasan mendatangi masjid (terutama waktu shubuh)? Atau minimal masih berkutat dengan kegiatan-kegiatan bid’ah mereka?

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pondasi segala sesuatu adalah Al Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.” [HR.Tirmidzi, Hasan Shahih]. Al Islam itu sendiri adalah istislam (berserah diri) kepada Allah dengan mentauhidkanNya, dan inqiyaad (patuh) dengan mentaatiNya, dan baraa’ah (berlepas diri) dari kesyirikan dan pelakunya. Berdasarkan hadits ini, kaum muslimin tidak akan berhasil menggapai puncak kejayaan, jika pondasi dan tiangnya keropos.

Dalam lingkup yang lebih sempit, idealnya negara-negara Arab seharusnya bersatu dalam menyikapi tragedi berdarah tersebut. Namun kenyataannya, sebagai salah satu bukti, salah satu negara yang berbatasan dengan Jalur Gaza menilai Hamas-lah yang menyebabkan tragedi berdarah di kota yang berhadapan dengan laut Mediterrania (Al Bahru -l Mutawassith) itu. Sedangkan Saudi Arabia dan beberapa negara arab lainnya menilai Israel telah melakukan sesuatu yang tidak berprikemanusiaan. Pandangan dan sikap sesama negara Arab berbeda bukanlah hal yang baru. Telah terjadi jauh sebelumnya pengkhianatan di kalangan negara Arab dalam menghadapi Israel pada tahun 1967 dalam perang yang dikenal sejarah sebagai Perang Enam Hari. Berbeda halnya dengan yang terjadi pada tahun 1973, di mana bangsa Arab bersatu padu di bawah komando Raja Faisal bin Abdul Aziz –rahimahullah- akhirnya berhasil memukul mundur dan mengusir Israel keluar dari Sainaa’. Namun, secara umum, Palestina adalah persoalan semua kaum muslimin di seluruh belahan dunia.

Akhirnya, mari kita mendo’akan kaum muslimin yang muwahhid yang menjadi korban kedzaliman tentara Yahudi di Jalur Gaza khususnya, dan Palestina umumnya, agar mendapatkan syahadah fii sabiilillah dan semoga kita dikumpulkan bersama para Nabi, shiddiiqiin, para syuhada’ dan orang-orang shalih. Amin.

Wallohu a’lam bish showab

masjidil-aqsha


bocahtiga_300_0

tadamonradiopalestine

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.